Sepucuk Surat Cinta Untuk Calon Imamku ~ Kumpulan Puisi Untuk Calon Suami

1327 views

Sepucuk Surat Cinta untuk Calon Suami dan Imamku.
Kepada : Seorang lelaki yang aku belum tahu siapa namanya, namun aku percaya dia ada.

Pengirim : Aku, seorang wanita yang tak pernah lelah menunggumu untuk menjemputku.

Sebenarnya puisi yang akan saya share ini sudah menjadi buku. Semoga saja penerbitnya (Penerbit SBMB sekarang berubah namanya jadi Penerbit Rumedia) ga marah kalau aku share disini hehe.
Lah.. gimana lagi,di postingan sebelumnya yang berjudul Puisi Untuk Calon Istri kepada calon istriku aku sudah kadung berjanji untuk nulis puisi untuk calon suami tapi otak lagi blank terus. Jadi mau ga mau, ya aku pakai puisi ini.

Sekitar desember tahun kemarin 2016 aku dihubungi oleh salah satu teman di sosmed Kara Biru Langit nama penanya. Dia bekerja di Penerbit SBMB. Dia bilang katanya ditempat dia bekerja lagi ada project buku antologi atau acara nulis bareng-bareng. Nah dia nawarin kali saya mau ikut.

Menulis Buku, wawww.. bukankah itu impian setiap orang yang suka nulis.
“OK aku ikut, Temanya apa?”
“Oh ya Dead linenya sih kapan?” tanyaku.
“Ada dua buku yang mau kami garap. Satu buku kumpulan puisi dan satunya lagi buku kumpulan cerpen”. terangnya.
“Kalau yang kumpulan puisi judulnya Dari Lubuk Untuk Hati, sedang yang kumpulan cerpen Tangis Tawa Kehidupan. Kaka mau ikut yang mana?”.
“Kalo Dead line 31 Desember Ka, jam 9 malam”. Lanjut si Kara
“Puisi, langsung aku nulis hehe”. Jawabku.

Singkat cerita, malam itu juga aku langsung mulai mengetik puisi ini. Namun sampai tanggal 30 Desember 2016 aku belum selesei. MUngkin karena ini pengalaman pertama menulis untuk dibuat buku, jadi ada perasaan tertekan atau apalah. Rasanya beda banget sama nulis untuk di pos di blog ini.

Jujur ya, malam terakhir sebelum sampai DL aku sengaja ga tidur, nunggu sampai menjelang subuh rencannya mau nyelesein tulisan ini tapi sampai paginya aku belum merasa puas juga. Rassanya kaya masih ada yang kurang. Dengan terpaksa siangnya, pas tanggal 31 Desember aku ga jualan. Dalam pikiranku, baru kali ini aku punya kesempatan untuk menulis buku, jadi entah bagaimana caranya harus aku selesaikan tulisan ini. Alhamdulillah setelah seharian lebih aku ga kluar kamar, dari pagi sampai sore cuma nonkrong di depan laptop jam 8 malam akhirnya selsei juga.

Dan inilah puisinya, yang aku beri judul

Puisi Untuk Calon Suami atau Imamku

Temukan Aku

Untuk seorang lelaki yang namanya tak pernah bosan aku selipkan dalam setiap permohonan, dengan sebutan calon suamiku.

Wahai lelaki, yang di masa depan akan menemamiku menjalani hari demi hari dari sisa usiaku. Bolehkah aku meminta sedikit waktumu.
Jika diijinkan, aku ingin bercerita padamu.
Tentang sejumput rasa yang selama ini aku pendam, tentang harapan-harapan yang tak pernah padam, juga tentang rintihan rindu yag terlahir dari lubuk hati ku yang terdalam.

Wahai calon suamiku, tahukah kau demi menghindari kesalahan, sudah lama aku memilih untuk sendirian. Selalu kuabaikan mereka-mereka yang mencoba untuk datang. Karena aku hanya mengharapkan engkau, lelaki tepat yang dipilihkan lansung oleh Tuhan.

Pada malam saat aku menulis catatan ini, entah kenapa rasanya hati ini sedikit lain. Aku seperti berada pada tempat yang sunyi, sendiri.
Aku sudah terbiasa dengan kesendirian ini. Namun malam ini, rasanya ingin sekali aku berbincang-bincang denganmu. Aku ingin menyapamu, sekedar untuk memastikan bahwa kau baik-baik saja disana.

Wahai lelaki yang hingga kini masih menjadi rahasia-Nya.
Karena Tuhan belum menyingkapkan takdir untuk kita, tak ada yang bisa aku lakukan selain menulis catatan seperti ini. Sebuah catatan singkat, ungkapan hati tentang keresahan dan sejuta harapan untukmu.

Aku mohon luangkan sedikit waktumu ya, lalu bacalah catatan singkat ini yang sengaja aku tulis untukmu.

Temukan aku, wahai calon suamiku

Ditemukanmu… Adalah permohonan yang tak pernah lelah aku panjatkan kepada-Nya. Aku menyadari kekurangan diri ini, akupun memahami kodratku sebagai wanita. Kehidupanku tak akan sempurna, jika hari demi harinya aku lewati sendiran, tanpa dirimu.

Ditemukanmu… Adalah impian. Jujur tak jarang aku merasa iri, ketika berpapasan dengan yang lain mereka tengah berjalan menggandeng tangan pasangannya. Sedang aku masih sendirian.
Tahukah kau? Aku juga ingin seperti mereka. Saat aku ingin bicara, kau datang untuk menawarkan kedua telinga. Ketika aku lelah karena terhimpit keadaan, kau juga datang sembari mengatakan, “Jangan bersedih, jangan berputus asa. Mohonlah kepada Tuhan, agar semua urusan dimudahkan”.
Aku pastikan padamu, aku bisa seperti mereka. Aku bisa, jika hanya ingin menggandeng tangan seseorang sekedar untuk mengusir rasa sepi ini. Tapi demi engkau, semua itu tidak aku lakukan. Aku lebih memilih untuk sendiri dulu. Aku sudah memutuskan untuk menunggumu, seorang lelaki yang datang tidak hanya menawarkan cinta. Namun seorang lelaki yang berani menemui orang tuaku, meminangku dan menghalalkanku.

Ditemukanmu… Adalah awal dari kehidupan baru. Kelak saat Tuhan sudah mengijinkan kita untuk bertemu, aku percaya kehidupan kita akan berubah untuk selamanya. Jika saat itu telah tiba, saat bahtera rumah tangga kita mulai berlayar. Tugasku telah berubah, baktiku kepada orang tua telah selesai, sudah waktunya aku berbakti padamu.
Mengikutimu, kemanapun engkau pergi. Tetap disampingmu, bagaimanapun keadaanmu nanti. Dan setia menemanimu, menikmati indahnya warna-warni hidup ini.

Tahukah kau …?
Kau adalah setengah dari diriku
Kau adalah setengah dari jiwaku
kau pun setengah dari tawa bahagiaku
Tanpamu, kehidupanku takan utuh.

Sadarkah kau?
Aku mulai bosan dengan kesendirian ini
Aku mulai jengah dengan impian-impian ini
Aku mulai lelah menunggumu selama ini
Aku mohon, temukan aku

Sekali lagi aku memohon,
Temukan aku, wahai calon suamiku.

Dari aku,
Seorang wanita yang sedang menunggumu
Calon istrimu

Makna Catatan “Temukan Aku”.

Saya tidak tahu harus menyebut tulisan ini apa. Entah puisi, sajak, prosa atau mungkin juga bukan ketiganya.
Karena jujur, saya memang tidak paham dalam bidang ini. Saya hanya suka iseng menulis. Dan melalui tulisan ini, saya ingin berbagi nasehat kepada kalian, yang merasa dirinya seorang laki-laki dan masih single.

Tulisan ini berisi ungkapan hati seorang wanita dewasa yang tengah menunggu kehadiran pasangan hidupnya. Melalui tulisan ini, saya berinisiatif mewakili mereka (wanita-wanita dewasa) untuk menyampaikan kegundahan, keresahan juga harapan-harapan mereka kepada kalian.

Saya yakin saya tidak harus menuliskan maknanya dengan detail. Saya percaya kalian bisa memahami dengan mudah.

Bacalah saat kalian tengan sendiri. Dengan harapan, kalian bisa mudah memahami pesannya.
Saran saya, carilah dan segera temukan pasangan kalian.
JIka kalian sudah merasa menemukannya, segeralah bersiap-siap untuk menghalalkannya.

Sekali lagi,
Cari dia, temukan dia dan segera halalkan dia.

Catatan ini aku tulis melalui sudut pandang seorang wanita. Mungkin lebih tepat disebut sebuat surat.
Karenanya jika kalian suka catatan-catatan seperti ini. Tunggu ya, aku sedang menulis surat balasan untuk catatan yang berjudul “Temukan aku” ini, dalam bentuk buku yang aku beri judul “#MenemukanMu”
Buku ini adalah True Story, tentang perjalananku menemukan dia(Calon Istriku)
Buku ini berisi tulisan-tulisan dengan tema cinta. Lebih tepatnya kisah perjalanan seorang lelaki dalam menemukan teman hidupnya. Tentang indahnya mencintai, pedihnya patah hati, perihnya ditinggal pergi dan sakitnya putus cinta. Tentang harapan-harapan dimasa depan juga tentang kebimbangan bagaimana harus mengambil sikap agar segera dipertemukan.
Ada cacatan-catatan pendek, kumpulan quote dan nasehat pendek tentang cinta, kumpulan surat yang aku tulis untuknya, untuk ayah dan ibunya. Ada beberapa Do’a yang sempat aku panjatkan, saat aku begitu rindu padanya dan tititk-tititk juga titik-titik yang lain lagi.

Aku tidak tahu bagaimana cara menemukannya (Calon Istriku). Satu yang aku yakini, entah disudut bumi yang sebelah mana, Tuhan sudah menciptakanya. Karenanya aku memilih menulis buku yang akan aku beri judul “MenemukanMu”
Dia(Calon Istriku) adalah alasan buku ini aku ada. Untuk aku serahkannya kepada takdir-Nya. Seraya berharap kepada Tuhan, untuk mengantarkan buku ini ke tangan pemiliknya (Calon Istriku).
Untuk Calon istriku,
Sabar sedikit ya, sesuai dengan judulnya, buku ini akan menemukanmu.
Penasaran ya..
Tunggu yaa.. sebentar lagi naskahnya selesai… aku janji, saat kalian membaca tulisan ini, buku ini sedang dalam proses. Semoga aja ada penerbit yang mau menerbitkannya. Aamiiiiin.

Salam dari saya
AWe,

Author: 
    author

    Related Post

    Leave a reply