Kumpulan Puisi Jatuh Cinta ~ Ungkapan Hati Ketika Seorang Tengah Jatuh Cinta

4764 views
Foto ilustrasi sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta

Foto ilustrasi sepasang kekasih yang tengah jatuh cinta

Puisi Jatuh Cinta

Harus aku akui, dalam perjalanan ini aku tlah berulang kali jatuh, lalu bangun dan jatuh lagi.
Tak ada keindahan yang aku dapat tiap kali aku jatuh.
Tapi aku menemukan satu tempat, dimana saat aku jatuh ada sejuta keindahan disana
Tempat itu adalah, Cinta..
Saat aku jatuh cinta padamu

Puisi Jatuh Cinta Yang Pertama

Puisi jatuh cinta pada pandangan pertama

Dirimukah Itu
Rembulan terlihat tersenyum
Di malam yang dingin ini, wajahnya yang biasa muram kini berbinar, diterpa sejuknya hembusan angin malam
Aku tengah duduk sendiri, di atas kursi di pojok serambi ketika kau datang
Bak peri mungil yang terbang dengan sayap-sayap kecil
Kau datang dengan langkah-langkah lincah
Membius mata ini untuk sesaat mengaggumimu
Kau ibarat titik putih, di tengah-tengah lembaran kertas hitamku
Atau lebih mirip pelangi yang menggantung di langit, memberi warna diantara gelap mendung yang tertahan

Lama nian, mata ini tak menangkap cahya seperti cahya milikmu
Begitu eloknya dirimu, hingga saat berjalan kakimu seolah tak menapak tanah
Meski kau sedang bicara namun bibirmu tak terlihat berucap
Semerdu kicau manuk Kedasih, semerdu itu tutur sapamu
Sungguh, entah ada apanya pada dirimu
Hingga mata ini begitu memuji pesonamu

Selamat datang dalam duniaku
Yang aku harap akan menjadi dunia kita
Pelan-pelan, ejalah kata-kataku sambil selami maknanya
Sudi kah kiranya dirimu duduk disampingku, lalu dengarkan cerita-ceritaku
Karena di buku Diaryku ini, tersimpan banyak kisah yang ingin aku jalani bersamamu

Puisi Jatuh Cinta Yang Kedua

Layaknya

Layaknya embun di pagi hari,
Aku ingin ada untuk membasuh dan membuka matamu seusai istirahat, demi memulai hari ini.
Layaknya seteguk air sejuk di siang hari.
Aku ingin ada untuk menyegarkan hatimu.
Layaknya pelangi di sore hari.
Aku ingin ada untuk menghiasi senyummu, bersama selesainya tugas dan kewajibanmu hari ini.
Layaknya selimut dan redup sinar mampu jalan saat kau rebahkan raga.
Aku ingin slalu disisimu,
Melindungimu dari dingin dan pekatnya jalan, agar malammu tak terganggu saat coba engkau raih apa yang tak pernah kau dapat dari jalangnya kenyataan.

Aku hanya ingin engkau tahu,
Aku ingin terus di sampingmu.
Mencoba memberi apa yang ku mampu, dan apa yang kau perlu.

Akhirnya Aku Menemukanmu
Diantara carut-marut sampah yang berserakan dibibir pantai,
Aku temukan selembar kertas yang berisi catatan ini
Pagi itu aku menamainya, Pagi yang tak biasa
Dengan sinar lembut dan tatapan bersahaja,
Mentari yang baru bangun dari tidurnya seolah berburu dengan waktu, ingin segera menemuiku.
Ditengah jalan ia lantunkan melodi-melodi cinta
Ia dendangkan syair-syair kasmaran
Ketika telah dihadapku, Ia mendekap ragaku erat, dan mengajakku terbang.
Kepak demi kepak sayapnya menuntun mata ini melihat dunia dari sudut yang lain.
Beberapa waktu yang lalu dari tempatku berdiam mata ini hanya mampu menatap jurang, lembah dan gersangnya gurun.
Tapi bersamanya aku bisa menghirup sejuknya udara pagi.
Aku dapat memeluk kelembutan pucuk-pucuk salju yang berdiri pada puncak-puncak tertinggi.
Dan ketika haus menyergap, ia membawaku pada mata air jernih, disuatu tempat yang tak pernah ku jamah.

“Siapa yang menulis ini”. Batinku berbisik.
Ketika kualihkan mata memandang ke sekitar, kudapati sesosok wajah ayu tengah tersenyum,
Disela senyumnya yang kian mengembang, ia berbisik,
“Ada beberapa hal yang tak mampu ku ungkap lewat lisan ataupun gerak tingkah, dan tulisan itu salah satunya”.
Tak perlu berfikir, aku segera bangkit dan merengkuhnya.
Ku tatap jernih matanya, lalu ku bisikan,
“Akhirnya aku menemukanmu….”.

02 Juni’13

Ketika matamu menatapnya melebihi aku.

Langkah ini terhenti sejenak
Saat kusadari ada bayang lain dipelupuk matamu
Remuk redam rasanya
Seperti beribu – ribu jarum melesak dan menembus jantung
Memercikan api, melahap lembar demi lembar harapan yang aku titipkan padamu
Segala daya seolah tiada guna
Bahkan janji setia yang dulu kita ikrarkan bersama, kini tak lagi bermakna
Aku mengerti, setiap kedua orang tua pasti ingin melihat anaknya bahagia.
Tapi benarkah mereka yang menginginkan kau bahagia bersamanya?
Atau kau dan dia lah sutradaranya?

29 April’13

Selamat ..
Kisah ini telah berakhir, saat pesona janur kuning melambai-lambai di kediamanmu
Tak taulah, itu pilihanmu atau desakan ayah ibumu
Yang aku tau, mulai hari ini kau telah menutup hati demi setiamu pada lelaki itu
Jika aku turuti ego, takan sudi kuinjakan kaki ke tempat ini dan mengulurkan tangan demi mengucap selamat
Tak apalah perih menyayat hati,
Tak apa jualah malu menampar muka
Yang aku fahami kemarin kau kekasihku, meski hari ini kau memilih bersama yang lain
Dan yang tetap akan kufahami, selamanya kau bukan musuhku, walau luka ini karna ulah tanganmu
Selamat Menempuh Hidup Baru..
Tak aku pungkiri meski setengah hati,
Aku berdo’a untuk kebahagiaanmu
Amin..

02 Juni’13

Lembayung biru
Di suatu senja pada musim semi, bulan Desember
Lembayung biru dengan lincahnya meliuk – liuk, menari bersama terpaan angin musim ini.
Ku akui meski beberapa kali musim berganti, dan kumbang yang nakal acap kali menghisap sarimu, namun pesonamu tak berkurang sedikitpun.
Kau yang dengan tulus menyerahkan mahkota.
Tapi kumbang jahanam itu malah mencampakanmu,
Meniupkan angin kelabu yang menggugurkan bunga – bungamu pada musim semi ini.
Lembayung biru..
Begitu dulu biasa ku panggil dirimu.
Ijinkan aku usap air matamu,
Ijinkanlah aku sirami tangkai rapuhmu,
Mendekatlah dan rebahkan ragamu didadaku,
Untuk malam ini, sudilah kau lelap dalam naunganku.
Dan esok pagi aku harap kau telah lupakan semuanya.
Karna aku begitu rindu, pada senyum lembayung biru, yang dulu pernah menjadi milikku.

04 Juni’13

puisi cinta puisi romantis

Author: 
    author

    Related Post

    Leave a reply